Samarinda Toraja

12
12 September 2020
Oleh : Dahlan Iskan
KETIKA berhasil membangun hotel Novotel yang baru, salah satu lounge di lantai 5-nya diberi nama “Damsole”.
Nama itu melekat lekat di benak pemilik Novotel baru di Surabaya itu: Arief Harsono.
Itulah nama kapal kayu yang akan selalu ia ingat. Kapalnya kecil. Hanya 5 ton. Di kapal itulah ia hampir mati: jatuh ke laut.
Saat itu Arif baru berumur 18 tahun. Itulah untuk kali pertama ia berbisnis: kopra. Ia mencari kopra sampai ke pulau Una Una. Itulah pulau bundar di tengah laut antara Poso dan Gorontalo. Yang dipenuhi pohon kelapa.
Arief terjatuh dari kapal itu. Untung juru mesin kapal itu melihat. Arief sudah timbul tenggelam jauh di belakang kapal. Damsole pun memutar balik. Setengah jam kemudian Arief sudah kembali ke kapal. Dengan seluruh badan menggigit. Sebagian karena ketakutan.
Arief selamat.
Nama Damsole itu diambil dari nama kampung di pinggir pantai Poso: Damsol.
Arief mengabadikan nama itu seumur hidupnya.
Executive Lounge di hotel itu juga ia beri nama Una Una. Dari situlah Arief mendapatkan uang pertama dalam hidupnya. Sekaligus dalam jumlah yang sangat besar.
Itulah pulau yang hanya bisa diraih dari Poso selama enam jam –dengan Damsole.
Masih ada satu nama lagi yang juga ia abadikan: Parigi. Kafe di hotel itu diberi nama Parigie: berasal dari kata Parigi, sebuah kota kecil dekat Poso.
Arief Harsono sendiri lahir di kota kecil di Sulteng: Toli Toli. Yakni di rumah panggung di tengah-tengah kebun kelapa. Tidak ada rumah sakit bersalin di Toli-Toli kala itu.
Arief adalah anak pertama. Tiga adiknya juga lahir di Toli-Toli. Tapi yang nomor dua lahir dengan jantung tidak sempurna. Setiap kali menangis badannya biru. Ketika sudah mulai bisa berjalan ia selalu terjatuh –di langkah ketiga atau keempat. Lalu badannya membiru.
Itulah yang membuat keluarga ini pindah ke Surabaya. Mencari dokter. Mereka naik kapal. Arief dan adik yang masih bayi ditinggal di Toli-Toli. Dirawat nenek mereka.
Bisnis kopra keluarga ini lantas dikendalikan dari Surabaya. Arief pun akhirnya dibawa ke Surabaya –bersama bayi yang sudah lebih besar itu.
Di Surabaya Arief sekolah di SD Negeri Kapasari. Ketika masuk SMP Arief memilih SMP swasta (Petra) agar bisa masuk sore. Di pagi hari Arief diminta membantu bapaknya di gudang kopra.
Demikian juga waktu SMA. Ia pilih SMA Petra –karena bisa masuk sore.
Waktu tamat SMA itulah Arief dihadapkan pada pilihan dari ayahnya: mau kerja atau mau kuliah.
Arief pilih kerja. Kenapa?
“Karena pilihan “kerja”‘ diucapkan ayah yang pertama. Maka saya jawab pilih kerja,” ujar Arief. “Saya tahu maksud ayah mengapa kata kerja’ diucapkan sebelum kata ‘kuliah’,” tambahnya. “Dan lagi kuliah kan masih bisa nanti-nanti,” katanya.
Sang ayah lantas mengirim anak umur 18 tahun itu ke Poso. Di sana Arief diminta belajar kopra kepada teman dagangnya: Haji Rauf Lasahido.
Setelah tujuh hari naik kapal –lewat Makassar, Kendari, Buton, dan Luwu –Arif tiba di Poso. Ia menempati satu kamar di rumah Haji Rauf yang besar.
Haji Rauf adalah pemilik kebun kelapa terbesar di Sulteng. Seingat Arief, sekitar 2/3 kebun kelapa di sana adalah milik Haji Rauf.
Sulteng memang pusat kopra di Indonesia. Dari sini pula orang seperti Eka Tjipta Widjaya –sebelum menjadi konglomerat– mendapat dagangan kopranya.
Selama ”magang” di Haji Rauf, Arief bisa mengumpulkan 2.000 ton kopra. Harga di sana Rp 18/kg, tapi Arief ingin menyikat habis seluruh kopra yang ada. Ia memberi harga lebih menarik: Rp 22/kg. Semua kopra pun lari ke Arief.
Kopra itu ia jual ke ayah di Surabaya dengan harga Rp 32/kg. Sang ayah setuju –tanpa tahu berapa anaknya membeli dari petani.
Sang ayah lalu kirim L/C lokal. Tapi L/C itu tidak bisa diuangkan. Padahal petani menunggu di pulau Una Una.
Untung Arief bisa dansa. Misalnya cha-cha. Ia belajar dansa waktu di SMA. Kemampuan dansa itulah yang membuat Arief bisa mencairkan uang di L/C –lewat bank yang pimpinannya minta diajari dansa.
Padahal Arief sudah pusing akibat bank penerima L/C tidak bisa mencairkannya.
Uang berkarung-karung itu dia bawa ke Una Una. Lunas. Kopra pun masuk gudang di Poso. Kunci gudang ia serahkan ke bank yang mencairkan L/C tersebut.
Arief pun mencarter kapal. Ia ikut naik kapal itu –mengawal sendiri kopra 2.000 ton menuju Surabaya.
Arief untung Rp 10/kg. Ia bisa langsung membeli mobil sedan baru: Peugeot 504. Sang ayah kaget anak umur 18 tahun ini beli mobil baru.
“Kamu ambil untung ya” tegur sang ayah.
“Ya iyalah Pa. Kan harus untung,” jawabnya.
Sang ayah tidak mempersoalkan lebih lanjut. Mungkin justru bangga di dalam dada. Setelah membeli mobil pun Arief masih punya kelebihan laba. Itu untuk modal membeli kopra lagi. Ia pun kembali ke Poso. Naik kapal lagi enam jam ke Una Una. Kembali dari Una Una yang kedua inilah Arif jatuh ke laut.
Ia trauma.
Itulah dagang kopra terakhir baginya. Kebetulan ia menemukan bisnis baru. Di umur 19 tahun. Yakni ketika Arief ke tempat temannya di Samarinda. Teman itu punya bengkel mobil. Di dekatnya ada orang ngelas. Arief merasa aneh kok ngelas tidak pakai karbit.
“Orang asing tidak suka bau karbit,” jawab tukang las itu.
Itulah untuk kali pertama Arief melihat ada orang ngelas tidak pakai karbit. Arif tertarik dengan pengetahuan baru itu. Ia banyak bertanya kepada tukang las itu. Termasuk dari mana mendapat gas untuk ngelas itu.
“Ini barang impor,” ujar tukang las itu.
Arief pun langsung melihat peluang: bikin bahan las itu di dalam negeri.
Ia sudah punya modal. Tapi tidak cukup. Ia ajak tiga teman sebayanya untuk kumpul-kumpul modal. Tidak juga cukup. Mereka sepakat mencari kredit bank.
Ayah Arief merestui tapi tidak mau gabung. Arief harus tanggung sendiri risiko masuk ke dunia industri. Sang ayah akan terus di sektor perdagangan.
Pabrik pun dibangun di Surabaya. Awalnya sulit diterima pasar. Sampai-sampai tiga temannya angkat tangan. Arief diminta mengembalikan modal mereka. Arief cari tambahan kredit jangka pendek.
Kebetulan seorang temannya di Gresik minta tolong: agar Arief mau membeli stok garamnya dengan harga murah sekali. Si teman lagi butuh uang. Garam itu akan dilepas dengan harga Rp 4/kg. Arief menggunakan sebagian uang kredit untuk menolong temannya itu.
“Tiba-tiba harga garam naik menjadi Rp 90/kg. Kredit jangka pendek saya langsung lunas,” katanya.
Akhirnya pabrik gas industri Arief berjalan lancar. Sudah 100 persen miliknya sendiri. Pabrik yang semula 2 hektare menjadi 20 hektare. Belum lagi pabriknya yang di banyak kota di Indonesia.
Singkatnya Arief menjadi yang terbesar di Indonesia. Merk dagang gasnya “Samator” –singkatan Samarinda-Toraja.
Saingan terberatnya saat itu adalah Aneka Gas –milik BUMN. Terutama setelah Aneka Gas dijual ke investor Jerman. Statusnya pun menjadi PMA. Samator harus bersaing dengan perusahaan asing.
Tapi Samator menang. Pun akhirnya Aneka Gas ia beli –dari pengusaha Jerman itu.
Setelah mengalahkan Jerman, Arief menghadapi pesaing asing lainnya: Praxair. Dari Amerika. Sekali lagi Samator menang. Praxair sampai mundur dari pasar.
Bukan main.
Saya pun minta Arief untuk mau podcast di Energi Disway. Ia teman baik. Tapi saya baru tahu banyak hal di saat podcast itu.
Yang saya tahu ia membangun begitu banyak Vihara. Termasuk di kampung halamannya di Toli-Toli. Ia merasa perjalanan bisnisnya begitu baik. Itu pasti berkat dari Tuhan. Makanya ia ingin mengembalikan sebagian hasilnya kepada Tuhan.
Dan akhirnya Arief menjadi ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia. Mereka yang tidak mau bergabung ke Walubi kumpul di sini. Kian lama kian eksis melebihi Walubi.
Dan ia benar: kuliah bisa belakangan.
Setelah menjadi pengusaha gas industri terbesar di Indonesia Arief baru kuliah. Ia lulus S-1 teknik mesin. Lalu lulus S2 bisnis dari Universitas Gadjah Mada. Pun masih kuliah lagi di S2 Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna Jakarta. Arief pun masih ingin meraih S-3.
Semangat belajarnya itu tidak surut justru ketika grup Samator sudah membiak menjadi 30 perusahaan. Dan ketika Arief sudah selesai membangun gedung-gedung pencakar langit: untuk apartemen dan Hotel Novotel Samator itu.
Bisnis, bersekolah, beragama menjadi satu dalam jiwanya. (Dahlan Iskan)
BACA JUGA:  Bupati Warning Camat Tetap Berada di Tempat