Rapid Test Reaktif, Kok Bisa Lolos…?

70

Radartuba.com, TUBABA -Terus bertambahnya pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) perlu perhatian khusus dan kewaspadaan semua pihak. Terutama terhadap para pendatang yang berasal dari zona merah penyebaran Covid-19, wajib mendapatkan perlakuan khusus sebagai upaya pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran virus mematikan tersebut.

Sebab dalam hal ini, perlu kita sadari bersama bahwa Pemerintah Kabupaten Tubaba juga tentu tak mampu menolak kedatangan warganya meski mereka berasal dari zona merah. Lebih-lebih di era Adaptasi Kebiasaan Baru atau New Normal yang saat ini memang sudah mulai diberlakukan di daerah tersebut. Namun perlu dipahami, situasi New Normal bukan sebuah “kebebasan”, tapi tetap harus dipahami sebagai langkah pencegahan penyebaran Covid-19.

Artinya, penerapan kebiasaan baru perlu didukung dengan langkah nyata seluruh lapisan masyarakat, salah satunya yakni dengan membiasakan pola hidup sehat. Sudah tepat, kita ikuti anjuran pemerintah dengan memperketat penerapan protokol kesehatan. Jaga jarak aman (social distancing & physical distancing), biasakan cuci tangan pakai sabun dan hand sanitizer, serta selalu menggunakan masker saat beraktivitas.

Namun, kasus RI (24) seorang perempuan warga Tiyuh Marga Jaya, Kecamatan Gunung Agung yang ditetapkan sebagai pasien ke-11 (P-11) terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan hasil uji swab RSUD Menggala pada tanggal 7 Agustus 2020 tentu menjadi sangat disayangkan. Sebab, informasi dari Dinas Kesehatan Tubaba menyebutkan bahwa, hasil Rapid Test Covid-19 terhadapnya (RI) diketahui sudah menyatakan reaktif sejak masih di Jakarta.

Pasca dinyatakan reaktif berdasarkan hasil rapid test tersebut, RI seharusnya menjalani isolasi dan mendapatkan perawatan disana (Jakarta). Bahkan, dilakukan uji rapid test kembali, sampai dengan pengujian sampel swab guna memastikan apakah yang bersangkutan positif atau negatif terjangkit Covid-19. Tapi kenyataannya, beberapa hari setelah rapid test menyatakan reaktif tersebut, yang bersangkutan tetap “bebas” berangkat menuju Lampung dalam rangka menjalankan tugas yang diberikan perusahaan tempat ia bekerja dengan tujuan Palembang.

BACA JUGA:  Dissos Targetkan Bantuan Mantra Tubaba Tersalur Sebelum Desember, Yusuf : Sekarang Masih Verivali Data RTS

Apakah memang tidak ada upaya pencegahan dari pihak-pihak terkait disana, misalnya dengan melakukan isolasi terhadap dirinya, atau memang hasil rapid test tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk melakukan langkah tersebut (isolasi)?. Sangat mengkhawatirkan, jika kondisi seperti ini terus terjadi, bukan tidak mungkin upaya pencegahan penyebaran Covid-19 yang dilakukan pemerintah daerah akan terkesan sia-sia.

Kepala Dinas Kesehatan Tubaba pun menyayangkan kondisi tersebut. Dia menegaskan, RI seharusnya memang menjalani isolasi sejak masih di Jakarta.”Ya inilah yang terjadi sekarang, kalau begini bisa luar biasa nanti penambahan kasus Covid-19. Seharusnya yang bersangkutan (RI) diisolasi sejak di Jakarta setelah hasil rapid test-nya reaktif, sampai diketahui hasil uji swabnya positif atau negatif,”cetus Majril, S.Kep, Ns, MM, kepada Radar Tuba melalui telepon, Jum’at (7/8/2020) lalu.

Menurutnya, penyebaran Covid-19 di Tubaba termasuk di gelombang kedua ini hanya mendapatkan “muntahan” dari wilayah zona merah.”Kalau di Tubaba ini, sebenarnya ya tidak ada. Sebab, tidak ada misalnya tidak ada kasus namun tiba-tiba ketularan,”tandasnya. Meski begitu, Majril tetap mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk tidak panik, namun harus tetap waspada dan menerapkan protokol kesehatan dengan ketat dalam menjalankan aktivitasnya. (ded)