Protokol Kesehatan Bisa Bikin Pengeluaran Klub Membengkak saat Restart

23

PSSI belum memutuskan kapan kompetisi berlanjut dan bagaimana formatnya. Namun, jika kompetisi berlanjut, protokol kesehatan yang ketat akan diterapkan. Protokol kesehatan itulah yang bakal memakan anggaran cukup besar. Hal tersebut berpotensi memicu pembengkakan biaya operasional klub dalam setiap pertandingan. Itu pula yang dirasakan manajemen Persela Lamongan.

’’Melihat konsep yang sudah kita terima, tentu memakan biaya yang tidak sedikit di setiap pertandingan,’’ tutur Manajer Persela Edy Yunan Achmadi kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (10/6).

Salah satu anggaran terbesar adalah kewajiban seluruh pelatih, pemain, dan personel tim untuk melakukan rapid test seminggu sekali. Padahal, biaya rapid test untuk satu orang lebih dari Rp 300 ribu.

’’Ada sekitar 31 pertandingan yang masih harus dimainkan. Jadi, biaya yang dikeluarkan tentu cukup besar,’’ ujar pria yang juga menjabat Kabag Pembangunan Pemkab Lamongan tersebut.

Selain itu, manajemen klub berjuluk Laskar Joko Tingkir tersebut harus mempersiapkan sejumlah perlengkapan sesuai dengan protokol yang dibuat PSSI. Karena itu, beban operasional klub bakal membengkak. ’’Jadi, perlu ada pembahasan lebih lanjut sehingga klub tidak terlalu terbebani,’’ ucap Yunan.

BACA JUGA:  Dovizioso: Honda Masih Malu-Malu Kucing di Sepang

Apalagi, manajemen Persela kini tidak memiliki pemasukan sama sekali. Ketika laga ditunda, tidak ada pemasukan dari penjualan tiket maupun sponsor. Bahkan, pengurus tim biru muda itu kelimpungan mencari pinjaman untuk penggajian. Hingga akhirnya tertutupi ketika dana kontribusi dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) cair bulan lalu. ’’Belum lagi gaji pelatih, pemain, dan ofisial masih berjalan,’’ katanya.

Meski begitu, Yunan mengaku bahwa draf protokol kesehatan saat kompetisi lalu hanya sebagai gambaran awal untuk klub. Dia berharap ada diskusi untuk mematangkan seluruhnya. ’’Kemarin kan masih konsep awal. Jadi, perlu ada pembahasan lebih lanjut untuk mematangkan,’’ ujarnya.

Yunan menjelaskan, biaya protokol kesehatan belum dibicarakan di internal pengurus. Sebab, hingga kini belum ada keputusan resmi dari PSSI terkait dengan kepastian bergulirnya kembali kompetisi Liga 1. ’’Kita tunggu keputusan resminya dulu, baru bisa melangkah lebih lanjut,’’ katanya. (*)