“Polima Gema Pancasila” Sarana Bangun Kearifan Lokal Masyarakat Kota Baubau

18

Radartuba.com, BANJARMASIN– Walikota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Kepualauan Buton, Dr.H.A.S Tamrin.MH., ingin membangun revolusi mental masyarakatnya melalui nilai-nilai kearifan lokal budaya warisan leluhur, yang dipadu dengan norma Pancasila sebagai landasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) guna mewujudkan masyarakat yang beradab dan bermartabat.

Hal itu disampaikan pria yang sudah dua periode menjabat sebagai Walikota di daerah yang cukup dikenal adat budaya serta pariwisatanya itu pada kesempatan acara Bedah Buku karyanya sendiri berjudul “Polima Gema Pancasila Dari Baubau”. Bertempat di Ballroom Hotel Golden Tulip Galaxy, Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu (8/2).

“Dalam suasana HPN ini, kita bisa mengaktualisasikan kembali nilai -nilai budaya, meski saya sadar buku ini mungkin masih jauh dari nilai sempurna. Untuk itu lah kita adakan kegiatan ini untuk dapat menyempurnakan buku ini melalui masukan dan saran dari semua unsur yang hadir disini. Sebab, melalui buku ini, saya ingin mengangkat nilai-nilai luhur masyarakat Baubau,”jelasnya. 

Sementara itu, dalam sambutannya Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di PWI Pusat Prof Dr. Rajab Ritonga mewakili ketua PWI Pusat Atal S Depari mengatakan, Kota Baubau merupakan salah satu daerah di NKRI yang berhasil mendapatkan penghargaan pada kesempatan HPN Kalsel dari Presiden RI Jokowi sebagai daerah yang berhasil membangun di bidang kebudayaan.

BACA JUGA:  Simpan Puluhan Ekor Hewan Hasil Kejahatan, Seorang Buruh Ditangkap Polsek Rawa Pitu

“Saya mewakili ketua PWI pak Atal S Depari yang juga sedang menghadiri kegiatan di tempat lain, di waktu yang bersamaan, menyampaikan salam dari beliau dan sekaligus untuk membuka acara bedah buku ini. Dimana, kota Baubau ini merupakan salah satu daerah yang menerima penghargaan karena berhasil membangun di bidang kebudayaan,”ucapnya. 

Masih dikatakan guru besar Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. maestopo (Beragama) itu, bahwa menulis buku juga merupakan salah satu hal yang paling sering dilakukan oleh wartawan. Bahkan menurutnya, ada pepatah mengatakan, belum hebat seorang jurnalis jika belum pernah menulis buku. Sebab, buku bagi seorang wartawan adalah mahkota. 

“Jadi menulis buku adalah mahkota wartawan, saya pun saat ini masih aktif menulis, dan bersama rekan-rekan di PWI pusat memuat buku tentang kode etik jurnalistik dan masih banyak lagi. Bahkan, sejak tahun 2011 silam, sampai sekarang tercacat sudah ada sebanyak 217 judul buku karya wartawan se-Indonesia yang setiap moment HPN ini selalu kita tampilkan,”tandasnya. 

Turut hadir dalam acara bedah buku tersebut, jajaran Pengurus PWI Pusat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Bau Bau dan Kota Banjarmasin, perwakilan wartawan dari berbagai kabupaten/kota se-Indonesia, serta relawan Srikandi Polima. (mis)