Sharing Time: Megalithic Millennium Art Siap Digelar, Penggiat Seni dan Budaya Hingga Arkeolog Dunia Akan Hadir

52

Radartuba.com, TUBABA– Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) akan mendatangkan para penggiat seni dan budaya, hingga arkeolog dari sejumlah negara pada event seni dan budaya bertaraf internasional bertajuk Sharing Time: Megalithic Millennium Art, yang akan dihelat pada 22-26 Januari 2020 mendatang.

Mereka yakni Andy Burnham (Inggris), Keith Miller (Inggris), Diane Butler (Amerika Serikat), Ari Rudenko (Amerika Serikat), Peter Chin (Kanada), Margit Galanter (Amerika Serikat). Lalu Frances Rosario (Amerika Serikat), Mara Poliak (Amerika Serikat), Betina Mainz, Rudolfo Mertig dan Sebastian Mainz Mertig (Jerman) dan  Anna Thu Schmidt (Jerman).

Sedangkan dari Indonesia akan hadir Rianto, Dian Angraeni,  Halilintar Latief (Makassar), Rizaldi Siagian (Jakarta), Transpiosa Riomandha (Yogyakarta), Daniel Oscar Baskoro (New York/ Yogyakarta), Alexander Gebe (Lampung), Edyitia Rio, Gar Dancestory, Haris Sukendar, Rizaldi Siagian, Rumah Tari Sangisu, dan Sandrayati Fay.

Diketahui, kegiatan tersebut akan berlangsung di 3 (tiga) titik, yakni di Kota Budaya Uluan Nughik, Berugo Cottage, dan kawasan Las Sengok. Dengan menitikberatkan tentang budaya dan lingkungan, kegiatan ini akan merefleksikan persoalan manusia, lingkungan dan masa depan sebuah kota.

Umar Ahmad mengatakan, kegiatan Sharing Time: Megalithic Millennium Art akan diselenggarakan dalam bentuk pertunjukkan, sarasehan dan workshop. Bahasan utamanya adalah membahas konsepsi masa depan dan pembangunan Kota Tubaba.“Kami berharap masyarakat Tubaba dapat terlibat aktif dalam setiap rangkaian kegiatan yang akan kita laksanakan ini,”singkatnya.

BACA JUGA:  Dengan Kerja Keras ,Target “Sukses 3P” MTQ Optimis Tercapai

Sementara itu, Direktur Kegiatan Sharing Time: Megalithic Millennium Art, Semi Ikra Anggara memastikan bahwa pihaknya akan melibatkan seluruh masyarakat dan para pelajar di Tubaba.“Rabu ini kami akan rapat bersama sejumlah SKPD, Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah membahas strategi sosialisasi kegiatan ini hingga ke tingkat bawah, materinya apa saja, dan masyarakat tertariknya kemana. Kami juga telah mengirim surat ke seluruh kepalo tiyuh untuk turut aktif dalam kegiatan ini,”terangnya kepada wartawan melalui telepon, Senin (6/1).

Semi menjelaskan, kegiatan ini mengangkat tema Megalithic karena konsepsi megalitik ini punya kandungan lingkungan, ketuhanan, dan kemanusiaan sehingga indikator megalitik bukan hanya kepada batu (arkeolog).“Maksud konsep kegiatan ini, manusia dan seni sekarang ini tetap dipengaruhi pikiran megalitic,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya nanti, lanjutnya, event ini akan dibagi ke dalam tiga kategori, yakni sarasehan, workshop dan pertunjukan. Diharapkan dari ketiga kategori acara tersebut setiap penyaji dan audiens bisa saling berbagi dan saling menginspirasi. Direncanakan, remaja Tubaba juga akan menjadi pembicara dalam salah satu sarasehan.

“Bahkan para pelajar juga kami undang dan membuat makalah bagaimana konsep pembangunan Tubaba. Sebab, pembangunan Tubaba ini bukan hanya dilakukan oleh pemerintah tapi juga bisa lewat perspektif hasil pemikiran masyarakat dan pelajar,”tandasnya.(ded)