Musim “Trek”, Produksi Getah Karet Turun Drastis

186

Radartuba.com, TUBABA – Para petani karet di sejumlah wilayah di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) mulai mengeluhkan produksi getah karet yang saat ini berangsur menurun akibat “musim trek” yang selalu terjadi saat kemarau tiba. Selama proses alamiah ini berlangsung, tanaman karet secara bertahap terus menggugurkan daunnya. Dampaknya, produksi getah bisa mengalami penurunan hingga 70 persen sebelum daun baru menua.
“Tetesan getah pada sayatan kulit batang karet menjadi sangat sedikit saat musim trek seperti saat ini. Sekarang saja sudah turun sekitar 30-50 persen dibanding saat produksi normal. Biasanya, perkebunan karet saya seluas setengah hektare bisa menghasilkan 25-30 kilogram getah perhari, sekarang hanya sekitar 15 kilogram saja,”ungkap Yanto (35), salah satu petani karet di Kecamatan Tulang Bawang Udik saat berbincang-bincang dengan Radar Tuba, Minggu (7/7).
Menurutnya, musim trek tidak dapat dihindari karena itu adalah siklus alamiah yang terjadi pada semua tanaman karet, khususnya saat musim kemarau tiba.”Bisa dikatakan musim gugur (daun) lah mas, dan ini setiap tahun pasti terjadi. Daun yang sudah tua lama-kelamaan akan menguning dan mengering, lalu rontok, dan prosesnya hampir bersamaan makanya produksi getah bisa merosot drastis. Bahkan, yang perawatannya memang sangat kurang, akan lebih cepat mengalami trek,”jelasnya.
Puncaknya, lanjut Yanto, adalah saat tanaman karet dalam kondisi “gundul” dan tumbuh tunas baru. Ketika sampai dalam kondisi tersebut, produksi getah turun hingga mencapai 70 persen dari produksi normal bahkan ada yang sama sekali tidak mengeluarkan getah. Oleh sebab itu, tak jarang petani yang langsung mengistirahatkan aktivitas perkebunannya, karena merasa percuma meskipun dipaksakan.
“Kalau dihitung, tenaga dan waktu yang kami korbankan jauh tidak sesuai dengan pendapatan yang kami terima. Percuma dipaksakan kalau daunnya gundul, karena kulit batangnya pasti tidak ada getah, walau masih menetespun juga sangat sedikit. Salah-salah justru bisa merusak kulit batang. Makanya, banyak yang sementara waktu diliburkan sampai daun baru yang tumbuh sudah mulai tua,”cetusnya.
Petanipun tidak bisa berbuat banyak dalam menyikapi kondisi alam tersebut. Mereka hanya berharap musim trek secepatnya berlalu, agar produksi getah kembali normal sehingga pendapatan mereka bisa kembali seperti semula.”Ya sekitar 2 -3 bulan mas waktunya, apalagi baru mulai kemarau. Yang jelas, kita berharap hal ini tidak berkepanjangan, sehingga mempercepat proses pertumbuhan tunas baru. Kalau daun sudah tua, baru getahnya akan normal kembali,”imbuh Kardi (45), yang memutuskan tidak menyadap karetnya selama musim trek ini. (ded)