Zonasi Dalam Dunia Pendidikan

95

Radartuba.com, TULANG BAWANG – Zonasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pembagian atau pemecahan suatu areal menjadi beberapa bagian, sesuai dengan fungsi dan tujuan pengelolaan. Istilah zonasi di dalam dunia pendidikan belakangan ini menjadi perbincangan hangat. Terutama sekali ketika zonasi dikaitkan dengan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Di kota/kabupaten di seluruh Indonesia terjadi pro dan kontra dalam menyikapi sistem zonasi ini. Tidak terkecuali di kabupaten berjuluk Sai Bumi Nengah Nyappur yang kita cintai ini.
Dalam konteks ini kebijakan zonasi dalam PPDB dipandang sebagai langkah mundur. Sistem zonasi dianggap merampas hak anak-anak berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah “favorit” yang kebetulan terdapat di luar zonanya. Sistem ini juga dianggap “mengebiri” anak-anak berprestasi untuk tetap bersekolah di sekolah yang terdapat di dalam zonanya.
Sementara itu pemerintah, melalui Permendikbud nomor 51 tahun 2018 pasal 16 dengan tegas mengatur hal tersebut, yakni Pendaftaran PPDB dilaksanakan melalui jalur zonasi, prestasi dan perpindahan tugas orang tua/wali.
Jalur zonasi mendapat porsi paling sedikit 90% (sembilan puluh persen) dari daya tampung sekolah. Jalur prestasi paling banyak 5% (lima persen) dari daya tampung sekolah. Sedangkan jalur perpindahan tugas orang tua/wali paling banyak 5% (lima persen) dari daya tampung sekolah.
Terkait dengan berkembangnya aspirasi masyarakat di beberapa daerah yang mengklaim bahwa sistem zonasi kurang berkeadilan akhirnya Mendikbud Muhadjir Effendy merevisi Permendikbud nomor 51 tahun 2018 itu dengan menerbitkan Permendikbud nomor 20 tahun 2019.
Dengan revisi itu maka bunyi pasal 16, ada perubahan sebagai berikut, yaitu Jalur zonasi paling sedikit 80% (delapan puluh persen) dari daya tampung sekolah, jalur prestasi paling banyak 15% (lima belas persen) dari daya tampung sekolah, dan jalur perpindahan tugas orang tua/wali paling banyak 5% (lima persen) dari daya tampung sekolah.
Jadi, dalam Permendikbud nomor 20 tahun 2019 ini jelas sekali diatur bahwa anak-anak yang berprestasi itu, baik akademik maupun non akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke luar zonanya yakni dengan melalui jalur “PRESTASI”
Esensi dari sistem zonasi
Sebagaimana telah kita ketahui, kemendikbud telah mengimplementasikan sistem zonasi ini secara bertahap sejak tahun 2016 yang diawali dengan penggunaan zonasi untuk penyelenggaraan ujian nasional. Lalu pada tahun 2017 sistem zonasi untuk pertama kalinya diterapkan dalam PPDB dan disempurnakan di tahun 2018 melalui Permendikbud nomor 14 Tahun 2018. Terakhir dengan Permendikbud nomor 51 tahun 2018 yang kemudian direvisi lagi dengan Permendikbud nomor 20 tahun 2019.
Meskipun selalu disempurnakan setiap tahun pada hakikatnya esensinya sama yakni satu komitmen untuk memperluas pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah, redistribusi dan pembinaan guru, serta pembinaan kesiswaan. Intinya, ke depan sistem zonasi bukan hanya untuk UN dan PPDB, tetapi menyeluruh untuk mengoptimalkan potensi pendidikan dasar dan menengah.
Dengan memperhatikan esensi dari sistem zonasi itu diharapkan kualitas pendidikan di Indonesia akan semakin meningkat. Hal itu tentu akan segera terwujud apabila mendapat dukungan dari seluruh pemangku kepentingan.
Dalam kaitannya dengan zonasi ini, pemerintah dan pemerintah daerah harus berkomitmen melaksanakan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah, redistribusi dan pembinaan guru, serta pembinaan kesiswaan. Para guru dan tenaga kependidikan harus memiliki kesadaran dan keikhlasan dalam mengabdi, bahwa pengabdian itu tidak dibatasi ruang dan waktu. Artinya terkait zonasi ini para guru dan tendik lainnya harus siap juga dimutasi-misalnya untuk memenuhi asas keadilan. Sementara itu masyarakat harus turut mendukung dan mengawasi agar komitmen yang kita buat ini benar-benar berjalan dengan sebagaimana mestinya. Semoga! (rus/ogi)